Rank Higher Grow Faster

Permasalahan air lindi yang selama ini menjadi perhatian masyarakat di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, kini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Melalui penerapan teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), air lindi yang sebelumnya berwarna pekat dan berbau menyengat berhasil diolah hingga memenuhi baku mutu lingkungan.

Perkembangan tersebut ditinjau langsung oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, saat melakukan kunjungan ke TPA Troketon. Dalam kesempatan tersebut, beliau melihat secara langsung proses pengolahan air lindi yang telah berjalan dan menunjukkan hasil yang signifikan.

“Kita kembali mengecek proses yang telah dimulai, yaitu pemrosesan lindi. Kalau dulu warnanya pekat dan baunya sangat menyengat, sekarang setelah melalui proses pengolahan kondisinya sudah jauh lebih baik dan bersih,” ujar Hamenang saat melakukan peninjauan di lokasi.

Hasil Pengolahan Memenuhi Baku Mutu

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, air hasil pengolahan telah memenuhi parameter baku mutu yang ditetapkan. Secara visual, air yang keluar dari sistem pengolahan tampak jauh lebih jernih dibandingkan sebelumnya.

Kondisi kolam penampungan saat ini masih menggunakan dasar tanah sehingga air terlihat sedikit keruh akibat endapan tanah. Namun, dari sisi kualitas, air tersebut telah memenuhi standar sehingga memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali, seperti untuk irigasi pertanian maupun kolam budidaya ikan.

Menurut Hamenang, pemerintah daerah berencana melakukan pembuktian lebih lanjut dengan memanfaatkan kolam permanen yang sedang dibangun dan melakukan uji coba menggunakan benih ikan sebagai indikator keamanan air hasil olahan.

Fokus Selanjutnya pada Pengolahan Sampah

Setelah penanganan air lindi menunjukkan hasil positif, Pemerintah Kabupaten Klaten kini mengalihkan fokus pada pengembangan sistem pengolahan sampah secara menyeluruh di TPA Troketon.

Proses penyusunan skema teknis dilakukan bersama tim akademisi sehingga diharapkan dapat menjadi dasar dalam pelaksanaan tahap berikutnya. Setelah seluruh kajian selesai, proses akan dilanjutkan menuju tahapan pengadaan untuk pembangunan sistem pengolahan sampah yang lebih optimal.

Pemerintah menargetkan agar pengelolaan sampah di TPA Troketon dapat berjalan lebih efektif sehingga volume sampah yang menumpuk dapat terus berkurang serta dampak lingkungan dapat diminimalkan.

Mengutamakan Sistem yang Berkelanjutan

Bupati Hamenang menjelaskan bahwa proses penanganan dilakukan secara bertahap karena pemerintah ingin memastikan sistem yang dibangun benar-benar dapat berjalan dalam jangka panjang.

Menurutnya, pembangunan yang dilakukan dengan perencanaan matang akan menghasilkan sistem yang lebih berkelanjutan dibandingkan proyek yang dikerjakan secara tergesa-gesa namun tidak dapat beroperasi secara optimal.

Selain pembangunan teknologi di TPA, masyarakat juga diharapkan turut berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dengan melakukan pemilahan sejak dari rumah. Sampah organik dapat diolah secara mandiri melalui kompos atau biopori sehingga sampah yang masuk ke TPA hanya berupa residu yang memang tidak dapat diolah kembali.

Teknologi Pengolahan Air Lindi oleh PT Amaka

Teknologi pengolahan air lindi di TPA Troketon menggunakan kombinasi proses biologi dan kimia-fisika yang disuplai oleh PT Amaka.

Direktur PT Amaka, Ghufran, menjelaskan bahwa seluruh air lindi mentah terlebih dahulu ditampung pada kolam penampungan untuk mendapatkan perlakuan awal. Pada tahap ini dilakukan injeksi agen biologi yang dilanjutkan dengan proses aerasi selama kurang lebih 21 hari.

Selanjutnya air diendapkan selama 14 hari untuk membantu menurunkan kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) sekaligus mengurangi bau yang dihasilkan. Setelah kondisi air mulai lebih encer dan jernih, air dialirkan menuju instalasi IPAL untuk menjalani proses pengolahan berikutnya.

Di dalam tangki sedimentasi, air dicampur dengan Poly Aluminium Chloride (PAC) dan polimer. Proses ini menyebabkan partikel-partikel pencemar menggumpal menjadi flok yang kemudian mengendap sebagai lumpur di dasar tangki. Sementara itu, air yang telah terpisah dari endapan dialirkan menuju tangki polishing dan sistem filtrasi akhir hingga menghasilkan kualitas air yang memenuhi baku mutu.

Ghufran menambahkan bahwa instalasi tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 65–75 meter kubik per jam. Ia juga menjelaskan bahwa proses pembangunan sempat mengalami penyesuaian jadwal akibat kondisi cuaca dan musim hujan yang cukup ekstrem. Namun saat ini seluruh sistem telah beroperasi dan mampu mengolah air lindi secara optimal.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa penerapan teknologi IPAL yang tepat dapat menjadi solusi efektif dalam mengatasi pencemaran air lindi sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang lebih modern, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Baku Mutu Inlet IPAL
Baku Mutu Outlite IPAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Our Services
Contact Us
About Us
Unlock the full potential of your online presence with Seoly, where innovation meets optimization. In today’s digital landscape, visibility is paramount, and our tailored SEO solutions are crafted to ensure your brand shines brightly amidst the competition.